Skip to content

Glenn Marsalim: Ayo @JalanKaki, Jakarta!

Desember 12, 2011

Akhlis Purnomo

11 Desember 2011

http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/12/11/glenn-marsalim-ayo-jalankaki-jakarta/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Pagi ini jamaah Suropatiyah di Taman Suropati mendapat kehormatan untuk menghadirkan Glenn Marsalim dan Marco Kusumawijaya. Sayangnya, pak Marco kesiangan bangun jadi tidak bisa datang (demikian keterangan yang bersangkutan via Twitter). Akhirnya Glenn tampil sendirian untuk menjelaskan gerakan yang ia cetuskan bersama dengan Marco.

Awalnya Glenn terilhami untuk memulai @JalanKaki dari pertemuannya dengan para aktivis NGO (lembaga swadaya masyarakat/ non-government organizations) yang menganalogikan ketersediaan fasilitas pejalan kaki sebagai telur dan ayam. Bagaimana bisa? Karena saat pejalan kaki makin banyak, pemerintah akan makin memberikan perhatian untuk peningkatan fasilitas pejalan kaki ini. Tapi apa yang kita temui sehari-hari bertolak belakang dengan apa yang diidealkan. Sering orang terutama di Jakarta yang begitu malas untuk berjalan kaki, meski trotoar sudah bagus, lapang, bersih. Glenn mencontohkan betapa banyaknya temen-temannya yang menolak berjalan kaki hanya untuk menuju tempat yang sangat dekat , yaitu dari Plaza Indonesia ke Grand Indonesia.This is absurd but real!

Hal lain yang turut mendorong kelahiran gerakan @JalanKaki juga yakni kecemburuan atas kenyamanan yang didapatkan pejalan kaki di negeri jiran, salah satunya menurut Glenn yaitu Singapura. Saat pejalan kaki di Jakarta harus mengeluhkan lebar trotoar yang sudah sempit tetapi masih juga harus berlomba dengan pesepeda motor yang ugal-ugalan menembus macet di trotoar atau menemui kesulitan berjalan dengan nyaman karena trotoar ‘habis’ dimakan pedagang kaki lima dan pembuatan gorong-gorong yang tak kunjung usai (lihat saja Jl. Sudirman), pejalan kaki di Singapura bisa melenggang kangkung dengan bebas di trotoar yang rata, bersih dan dipayungi pepohonan teduh serta, tak kalah pentingnya menurut Glenn,karya-karya seni yang menyejukkan mata.

Untuk itulah, Glenn mencoba mengajak lebih banyak orang metropolis (demikian ia menyebut orang-orang yang tinggal di Jakarta dengan strata ekonomi menengah atas) untuk lebih rajin berjalan kaki tanpa harus sepenuhnya meninggalkan kesenangan mereka seperti berbelanja, nongkrong, bersosialisasi dan sebagainya. Dengan nada kocak dan lantang tanpa malu-malu, ia berkata, “Kami kaum hedonis metropolis ini tidak mau kesenangan kami terganggu tetapi pada saat yang sama kami juga ingin untuk berbuat kebaikan”. Dan karena berjalan kaki lebih erat kaitannya dengan pemakaian moda transportasi umum, Glenn juga berupaya untuk mengajak kita lebih banyak gunakan jenis transportasi umum seperti busway, angkot, dan sebagainya.

Agak mustahil untuk mengajak orang sepragmatis kaum perkotaan ini untuk meninggalkan kenyamanan mereka berkendaraan pribadi tanpa memberikan reward. Kemudian Glenn terpikir untuk memberikan sebuah insentif bagi tiap orang yang mau berjalan kaki dan mengunggah foto-fotonya lewat Twitter. Tweet tentang perjalanan berjalan kaki itu kemudian dianggap sebagai tiket untuk bisa mendapatkan insentif. Nah, insentif ini, kata Glenn, bisa bermacam-macam, dari berupa kopi gratis di Starbuck hingga potongan harga sekian persen di toko/ merchant tertentu yang sudah bekerjasama dengan @JalanKaki.

Salah satu pegiat Yoga Gembira, Larasati, menanyakan mekanisme yang digunakan untuk mengatasi kebohongan yang bisa saja dilakukan orang untuk mendapatkan insentif. Misalnya, kata Larasati, jika seseorang sudah berjalan beberapa waktu yang lalu dan kemudian ia mengunggah foto yang sudah lama tersebut di Twitter dengan menyebut @JalanKaki hanya untuk dapatkan kopi gratis. Glenn menjawab keraguan tersebut juga sudah dinyatakan oleh merchant yang ia ajak kerjasama, tetapi satu hal yang patut dipercaya dalam sebuah gerakan sosial seperti @JalanKaki ialah bahwa semua orang dianggap pada dasarnya beritikad baik. Dan meskipun ada yang curang, Glenn memperkirakan tidak akan banyak. “Sekarang saja sudah ada orang yang begitu sering mengunjukkan foto-fotonya berjalan kaki pada kami padahal ia tidak mendapat insentif apapun,” kata Glenn. Dan karena semua ini dibangun atas dasar adanya komunitas, Glenn mengatakan tindak curang akan secara alami mendapat hukuman dari anggota komunitas yang lain sehingga ia tidak terlalu khawatir akan kemungkinan curang.

Tampaknya antara @JalanKaki dan Yoga Gembira juga memiliki satu benang merah: tekad untuk mempertahankan ruang dan fasilitas publik yang makin tergerus. Kekuatan sebuah komunitas yang solid, menurut Glenn, adalah hal yang mampu mempertahankan ‘godaan’ bagi pemerintah untuk lebih banyak membangun mall hanya karena warga ibukota lebih jarang  menggunakan ruang-ruang publik yang ada seperti taman-taman, trotoar, dan sebagainya. Tak ada yang lebih efektif, bahkan dibandingkan lobi atau approach ke birokrat atau unjuk rasa pembakaran diri sekalipun, untuk bisa menentukan arah kebijakan pemerintah kita yang sering kurang peka selain dengan bersama-sama, bahu membahu mempertahankan kepentingan dan fasilitas publik untuk bisa hidup lebih manusiawi di Jakarta yang sudah sumpek dan ruwet ini. Karenanya, ayolah manfaatkan ruang publik terbuka di sekitar Anda sebelum digusur menjadi mall!!!

p.s.: Tulisan ini juga bisa dibaca di yogagembira.net

Follow akun Twitter Yoga Gembira (komunitas yoga untuk sosial di Taman Suropati) di @SocialYogaClub atau pengasuh Yoga Gembira @yudhi_yoga. Hadiri juga minggu depan acara Yoga Gembira (18/12) dalam rangka hari Ibu di Epicentrum Walk, Rasuna.

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: