Lanjut ke konten

Pemenang Lomba Tweetpic Tahun Baru 2012

Inilah penjelasan juri yang terdiri dari Ayu Utami dan Erik Prasetya.

PEMENANG HARAPAN

@Drivo Jansen.

Penjelasan juri:

Foto ini menangkap suasana tahun baru khas Indonesia/Jakarta, dengan adanya delman yang dihias sedemikian rupa. Kekacauan lalulintas khas negeri ini juga tampil dengan baik. Hanya saja, secara teknis kurang sempurna.

@PutriSihaloho.

Penjelasan juri:

Foto ini memotret suasana gembira warga yang hanya berjalan di jalur busway pada malam hari. Keramaian di belakangnya menunjukkan malam istimewa tahun baru. Masih banyak kekurangan teknis.


@Drivo Jansen.

Penjelasan juri:

Foto ini menangkap momen menarik ketika lampu dan kembang api membentuk pola-pola tertentu. Meski demikian, kurang kuat.

Pemenang 2:

@Ignatius_Adrian.

Penjelasan juri:

Foto ini menggambarkan suasana kota tahun baru dan menangkap momen menarik dengan teknik yang memadai. Detail awan, pohon, gedung-gedung, tampil dengan cantik. Kembang api pun membentuk formasi yang menarik.

Pemenang 1:

@Robin Hartanto.

Penjelasan juri:

Sebuah jukstaposisi (penjajaran dua hal yang sebetulnya tidak berhubungan) yang sangat baik antara bunga dan kembang api. Foto ini istimewa juga karena berhasil merekam dua peristiwa istimewa: tahun baru dan mekarnya bunga wijayakusuma yang sangat jarang. Jadi, dari segi isi dan bentuk foto ini istimewa.

Lomba Tweetpic Taon Baruan 2012

Making Jakarta Walkable – Interview on BeritaSatu

http://www.thejakartaglobe.com/bigtalk/making-jakarta-walkable/december-12-2011/228545

Glenn Marsalim – @JalanKaki Social Yoga Club

@JalanKaki di PictFest

Glenn Marsalim: Ayo @JalanKaki, Jakarta!

Akhlis Purnomo

11 Desember 2011

http://lifestyle.kompasiana.com/urban/2011/12/11/glenn-marsalim-ayo-jalankaki-jakarta/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Pagi ini jamaah Suropatiyah di Taman Suropati mendapat kehormatan untuk menghadirkan Glenn Marsalim dan Marco Kusumawijaya. Sayangnya, pak Marco kesiangan bangun jadi tidak bisa datang (demikian keterangan yang bersangkutan via Twitter). Akhirnya Glenn tampil sendirian untuk menjelaskan gerakan yang ia cetuskan bersama dengan Marco.

Awalnya Glenn terilhami untuk memulai @JalanKaki dari pertemuannya dengan para aktivis NGO (lembaga swadaya masyarakat/ non-government organizations) yang menganalogikan ketersediaan fasilitas pejalan kaki sebagai telur dan ayam. Bagaimana bisa? Karena saat pejalan kaki makin banyak, pemerintah akan makin memberikan perhatian untuk peningkatan fasilitas pejalan kaki ini. Tapi apa yang kita temui sehari-hari bertolak belakang dengan apa yang diidealkan. Sering orang terutama di Jakarta yang begitu malas untuk berjalan kaki, meski trotoar sudah bagus, lapang, bersih. Glenn mencontohkan betapa banyaknya temen-temannya yang menolak berjalan kaki hanya untuk menuju tempat yang sangat dekat , yaitu dari Plaza Indonesia ke Grand Indonesia.This is absurd but real!

Hal lain yang turut mendorong kelahiran gerakan @JalanKaki juga yakni kecemburuan atas kenyamanan yang didapatkan pejalan kaki di negeri jiran, salah satunya menurut Glenn yaitu Singapura. Saat pejalan kaki di Jakarta harus mengeluhkan lebar trotoar yang sudah sempit tetapi masih juga harus berlomba dengan pesepeda motor yang ugal-ugalan menembus macet di trotoar atau menemui kesulitan berjalan dengan nyaman karena trotoar ‘habis’ dimakan pedagang kaki lima dan pembuatan gorong-gorong yang tak kunjung usai (lihat saja Jl. Sudirman), pejalan kaki di Singapura bisa melenggang kangkung dengan bebas di trotoar yang rata, bersih dan dipayungi pepohonan teduh serta, tak kalah pentingnya menurut Glenn,karya-karya seni yang menyejukkan mata.

Untuk itulah, Glenn mencoba mengajak lebih banyak orang metropolis (demikian ia menyebut orang-orang yang tinggal di Jakarta dengan strata ekonomi menengah atas) untuk lebih rajin berjalan kaki tanpa harus sepenuhnya meninggalkan kesenangan mereka seperti berbelanja, nongkrong, bersosialisasi dan sebagainya. Dengan nada kocak dan lantang tanpa malu-malu, ia berkata, “Kami kaum hedonis metropolis ini tidak mau kesenangan kami terganggu tetapi pada saat yang sama kami juga ingin untuk berbuat kebaikan”. Dan karena berjalan kaki lebih erat kaitannya dengan pemakaian moda transportasi umum, Glenn juga berupaya untuk mengajak kita lebih banyak gunakan jenis transportasi umum seperti busway, angkot, dan sebagainya.

Agak mustahil untuk mengajak orang sepragmatis kaum perkotaan ini untuk meninggalkan kenyamanan mereka berkendaraan pribadi tanpa memberikan reward. Kemudian Glenn terpikir untuk memberikan sebuah insentif bagi tiap orang yang mau berjalan kaki dan mengunggah foto-fotonya lewat Twitter. Tweet tentang perjalanan berjalan kaki itu kemudian dianggap sebagai tiket untuk bisa mendapatkan insentif. Nah, insentif ini, kata Glenn, bisa bermacam-macam, dari berupa kopi gratis di Starbuck hingga potongan harga sekian persen di toko/ merchant tertentu yang sudah bekerjasama dengan @JalanKaki.

Salah satu pegiat Yoga Gembira, Larasati, menanyakan mekanisme yang digunakan untuk mengatasi kebohongan yang bisa saja dilakukan orang untuk mendapatkan insentif. Misalnya, kata Larasati, jika seseorang sudah berjalan beberapa waktu yang lalu dan kemudian ia mengunggah foto yang sudah lama tersebut di Twitter dengan menyebut @JalanKaki hanya untuk dapatkan kopi gratis. Glenn menjawab keraguan tersebut juga sudah dinyatakan oleh merchant yang ia ajak kerjasama, tetapi satu hal yang patut dipercaya dalam sebuah gerakan sosial seperti @JalanKaki ialah bahwa semua orang dianggap pada dasarnya beritikad baik. Dan meskipun ada yang curang, Glenn memperkirakan tidak akan banyak. “Sekarang saja sudah ada orang yang begitu sering mengunjukkan foto-fotonya berjalan kaki pada kami padahal ia tidak mendapat insentif apapun,” kata Glenn. Dan karena semua ini dibangun atas dasar adanya komunitas, Glenn mengatakan tindak curang akan secara alami mendapat hukuman dari anggota komunitas yang lain sehingga ia tidak terlalu khawatir akan kemungkinan curang.

Tampaknya antara @JalanKaki dan Yoga Gembira juga memiliki satu benang merah: tekad untuk mempertahankan ruang dan fasilitas publik yang makin tergerus. Kekuatan sebuah komunitas yang solid, menurut Glenn, adalah hal yang mampu mempertahankan ‘godaan’ bagi pemerintah untuk lebih banyak membangun mall hanya karena warga ibukota lebih jarang  menggunakan ruang-ruang publik yang ada seperti taman-taman, trotoar, dan sebagainya. Tak ada yang lebih efektif, bahkan dibandingkan lobi atau approach ke birokrat atau unjuk rasa pembakaran diri sekalipun, untuk bisa menentukan arah kebijakan pemerintah kita yang sering kurang peka selain dengan bersama-sama, bahu membahu mempertahankan kepentingan dan fasilitas publik untuk bisa hidup lebih manusiawi di Jakarta yang sudah sumpek dan ruwet ini. Karenanya, ayolah manfaatkan ruang publik terbuka di sekitar Anda sebelum digusur menjadi mall!!!

p.s.: Tulisan ini juga bisa dibaca di yogagembira.net

Follow akun Twitter Yoga Gembira (komunitas yoga untuk sosial di Taman Suropati) di @SocialYogaClub atau pengasuh Yoga Gembira @yudhi_yoga. Hadiri juga minggu depan acara Yoga Gembira (18/12) dalam rangka hari Ibu di Epicentrum Walk, Rasuna.

“To move this stubborn, unmotivated government, we need to show them our numbers,” Marco said.

Walk the Streets of Jakarta With Jalan Kaki
Lisa Siregar | December 01, 2011

http://www.thejakartaglobe.com/lifeandtimes/walk-the-streets-of-jakarta-with-jalan-kaki/482068

In a dense city where traffic jams are a part of everyday life, residents must be smart in considering their commuting and transportation options. Unlike metropolises in more developed countries, Jakarta’s street grid lacks organization and isn’t well integrated with its limited public transportation.

Traffic jams, stop-and-go commutes with more “stop” than “go” and air pollution greet those traveling through the city.

The administration’s ideas for improvement haven’t produced results, with failed attempts at a monorail and now a proposed elevated bus system that would cost seven times more than the monorail but only has funding for a fraction of the $500 million price tag.

Just last week, a 55-year-old pedestrian died after falling into an open drain as she walked through the city. Even so, the city administration defended the uncovered drains in the wake of the incident.

It’s tough to walk in this city. Recognizing that Jakarta has failed to improve conditions for pedestrians and getting tired of complaining about the situation, some people have launched an initiative to bring attention to those who choose to walk and offer them rewards for doing so.

Urban planner Marco Kusumawijaya had an idea to encourage people to start walking. He and some friends are currently setting up a new Web site, jalankakijakarta.wordpress.com, to offer rewards for those who use their feet and post pictures of their adventures.

“We plan to work with vendors so people can earn financial benefits by making the most of any walking distance in Jakarta,” he said.

The ultimate goal is to hold themed picture contests once they negotiate deals with various vendors.

Rewards will come in the form of freebies or discounts, but the good deed behind the initiative is to get more people out of cars. According to Marco, the number of people who take public transportation has declined 20 percent during the past eight years and the number of motorbike users has risen 40 percent in the same period.

“This means fewer and fewer people are willing to walk in the city because walking is an integral part of taking public transportation,” he said.

Marco, who has worked in urban planning for more than two decades and is the author of “Jakarta: Metropolis Tunggang-langgang” (“Jakarta: A Helter Skelter Metropolis”), said the rise in vehicle usage was making air pollution worse.

“Only people who walk will help reduce the air pollution,” he said.

Jakartans’ unwillingness to walk is understandable, given how downright hostile the city can be to pedestrians. Malls and hotels, for example, clearly favor those who arrive in vehicles by allotting space for guest drop-off and valet services and providing parking lots, while those on foot can struggle to find a clear path to the door.

What’s more, vendors block sidewalks. To ward off the vendors, many residents and business owners place obstacles, such as large plants, on the sidewalks in front of their establishments. While these sometimes succeed in keeping the illegal vendors away, they also displace those for whom the sidewalks were ostensibly created.

On the streets, car and motorcycle drivers are often hardly bothered to stop for pedestrians, even if the pedestrian is in a clearly marked crosswalk.

“I myself don’t bother to look right and left when I go through a zebra cross,” Marco said.

Marco said his new Web site was about broaching the topic of walking with the public and demonstrating that pedestrians exist and should be respected. It’s the same thing the Bike to Work community has been doing by pushing the government to create bike lanes.

Rangga Panji, Reza Prabowo and Daniel Giovanni are three health-conscious friends who support Marco’s idea.

“I usually take my bike to go around, but sometimes I like to walk,” Rangga said.

For Rangga, the downside of walking in the city is that it takes so much effort. The sidewalk is narrow and uneven.

“Once, I walked from Gatot Subroto to Mampang and somewhere in the middle, the sidewalk was gone,” he said.

Daniel added that this was why people chose the instant solution, such as calling for an ojek (motorbike taxi), a cab or, if they can afford it, a private vehicle. Daniel owns a motorbike, but he often uses the bus to go around the city. He laments the fact that the only good areas for walking are the main roads of Central Jakarta, such as Jalan Sudirman and Jalan Thamrin.

“At Fatmawati [in South Jakarta], the sidewalks are not connected, so people can’t walk,” he said.

There is a vicious cycle, Daniel said, of people not walking because there are no proper sidewalks, and the government not working on those sidewalks because they think people don’t like to walk.

“Even between buildings in Senayan [in Central Jakarta], such as near the malls and the sports stadium, the sidewalk is not integrated,” he said.

Reza said that his driver’s license expired five years ago and he does not intend to renew it. He prefers to ride his bike, walk or take public transportation.

“I see that we don’t need driver’s licenses to drive here anyway,” he said. “The whole system, such as law enforcement and easy leasing credit for motorbikes, has created chaos for pedestrians. I don’t want to be a part of it.”

Marco said the situation was a result of a lack of leadership because there were already a laws to protect pedestrians. He notes that if someone runs over a pedestrian in a crosswalk, they can be charged with criminal negligence and homicide. But since the administration doesn’t promote the laws, drivers don’t acknowledge them and show little concern for the rights or safety of pedestrians.

With the Jalan Kaki initiative, Marco hopes to call attention to the numbers of the city’s walkers through photographs they’ve taken during their excursions.

Walkers take pictures of their journeys to a store or event, documenting the trek through pictures of street signs or landmarks along the way.

“To move this stubborn, unmotivated government, we need to show them our numbers,” Marco said.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.